Senin, 16 Agustus 2010

jadi kaya dari kayu

Untuk memasang foto atau lukisan pada dinding rumah, pasti perlu bingkai atau frame. Sebuah bingkai sederhana proses pembuatannya tak terlalu sulit. Berbeda halnya jika frame itu dihasilkan melalui kreatifitas tinggi, dengan mengukir kayu dan memolesnya menggunakan warna alami. Kejelian pun diperlukan agar setiap sudutnya tersusun rapi sesuai ukuran. Tak mudah memang membuat sebuah figura yang terkesan natural seperti keinginan pembeli. Namun, kesulitan itulah yang menantang Nur Rohman, Ferry Manasyeh, serta Iwan dan Fendi Cuaca, kakak beradik untuk membuat figura cantik.

Nur Rohman, pemilik bengkel pembuatan frame sekaligus show room di kawasan Kemang mengaku bisnis yang digelutinya tak pernah sepi pembeli. Dulunya, Nur--biasa dia disapa--membangun sebuah toko kecil-kecilan dengan modal Rp 3 juta. Kini bersama 12 stafnya, Nur mampu meraup laba tinggi dari hasil order membuat bingkai. Harga yang ditawarkan pun termasuk harga damai. Mulai dari Rp 3.000 untuk ukuran kecil, sampai jutaan rupiah sesuai pesanan konsumen. "Perusahaan, hotel, dan fotografer paling banyak pesan," aku dia. Semua order dilayani maksimal. "Yang penting intuisi sebagai pecinta seni," lanjut Nur.

Kepiawaian Nur Cs mengerjakan bingkai dalam tempo singkat itulah yang mengharumkan namanya. Dia mengaku tak perlu promosi khusus. Cukup dari mulut ke mulut. Pengusaha Toraya Frame, Ferry Manasyeh lain lagi. Selain harus bisa cepat menyelesaikan sebuah frame, bahan baku yang digunakan juga harus berkualitas. Toraya Frame yang berdiri sejak 1978 menawarkan 200 motif figura terbuat kayu lokal dan impor. Contohnya kayu oak, pinus, dan rami. Untuk menjaga kualitas, mereka melakukan sistem pembakaran dan penyikatan saat mencampur warna. "Bahan warna yang dipakai bisa bertahan delapan sampai sepuluh tahun," kata dia. Harga bingkai lumayan tinggi jika memesan dari kayu impor. Tapi, jika menggunakan kayu lokal tarifnya mulai Rp 10 ribu per buah.

Bisnis pembuatan bingkai memang mulai booming di Jakarta pada dekade 80`an. Ketika itu, usaha tersebut terus menjamur. Kawasan Mampang Prapatan adalah satu di antara lokasi yang terkenal sebagai pusat produsen frame. Adalah Iwan dan Fendi Cuaca yang juga membuka toko di sana. Saat ini, keduanya mengelola empat toko dan satu show room. Sayang, krisis moneter sejak empat tahun terakhir membuat bisnis itu sedikit goyah. Hal tersebut diakui Iwan. Kendati demikian, Iwan mengaku tetap bertekad meneruskan usahanya meski keuntungan sulit diprediksi. "Kadang hanya Rp 50 ribu di kantong. Bisa juga jutaan disimpan," kata Iwan, optimistis.(KEN/Tim Usaha Anda)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar